Sabtu, 27 Mei 2017

Minggu, 28 Februari 2016


Rabu, 10 Februari 2016



8 MAZHAB DALAM ISLAM
 Oleh: Syaikh Idahram
Mazhab adalah suatu pendapat/pandangan seorang Imam Mujtahid dalam memahami teks-teks Alqur’an dan sunnah yang terkumpul dalam satu madrasah pemikiran dan memiliki pengikut.
Mazhab dalam Islam terbagi tiga: kelompok politik (siyasah), akidah dan Fikih. Dalam pandangan politik misalkan, ada mazhab (1) Ahlussunnah wal jamaah, (2) Syiah, (3) Khawarij, (4) Murji’ah, (5) Kisaniyah, (6) Zaidiyah, (7) Hakimiyah, (8) Nushairiyah.
Dalam kelompok akidah, ada mazhab (1) Asyairah, (2) Maturidiyah, (3) Mu’tazilah, (4) Qadariyah, (5) Jabariyah, (6) Bahaiyah, (7) Qadiyaniyah dan (8) Mujassimah Musyabbihah, Mazhab Wahabi ada kesamaan dengan Mazhab Musyabbihah Mujassimah dalam hal akidah.
Adapun dalam kelompok Fikih, sedikitnya ada 9 (sembilan) mazhab terkenal yang masih ada pengikutnya hingga hari ini. Jika kita sebutkan satu persatu, di antaranya adalah:
1.    Mazhab Fikih pertama dalam Islam, yaitu Mazhab Ibadhiyah. Pendirinya Abdullah ibnu Ibadh al-Muqaisy al-Mari at-Tamimi wafat sekitar tahun 86 Hijriyah. Mazhab ini juga dinisbatkan kepada Jabir ibnu Zaid al-Ommani yang berguru kepada Sahabat, Ibnu Abbas r.a. Fikih Ibadhiyah sangat dekat dengan kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, berdasarkan al-Quran, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Sebagian Ibadhiyah adalah Syiah seperti suku al-Lawatiyah di Omman.[1] Saat ini pengikut Mazhab Ibadhiyah banyak terdapat di negara Omman sebagai mazhab resmi negara, juga tersebar dalam jumlah kecil di beberapa negara berpenduduk muslim seperti: Libiya, Aljazair, Tunis, Maroko dan di beberapa negara Afrika.
2.    Mazhab Zaidiyah, yang merupakan mazhab Fikih tertua kedua setelah Ibadhiyah. Terkadang orang menyebutnya Syiah Zaidiyah. Zaidiyah adalah mazhab dalam hal akidah dan Fikih sekaligus. Banyak –tetapi tidak semua– dari Ahlulbait (keturunan) Nabi s.a.w. dari kalangan habaib dan asyraf bermazhab Zaidiyah. Mazhab Zaidiyah ini dinisbatkan kepada Zaid ibnu Zainal Abidin ibnu Husein ibnu Ali karramallahu wajhah ibnu Abu Thalib. Beliau wafat tahun 94 Hijriyah. Saat ini pengikut Zaidiyah banyak terdapat di negara Yaman. Mazhab Syiah yang satu ini paling dekat dengan Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah dan paling moderat. Mereka tidak mengganggap para Imam yang 12 ma’shum seperti ma’shumnya Nabi, melainkan seperti manusia biasa. Hanya saja para Imam-imam itu lebih mulia kedudukannya setelah Nabi s.a.w. Mereka juga tidak mengkafirkan para khalifah setelah Nabi s.a.w., khususnya para khalifah yang telah dibaiat oleh Sayidina Ali karramallahu wajhah.[2]
3.    Mazhab Hanafi. Pendirinya adalah Abu Hanifah an-Nu’man ibnu Tsabit al-Kufi. Beliau lahir pada tahun 81 Hijriyah (700 Masehi) dan wafat tahun 150 Hijriyah (767 Masehi). Inilah mazhab yang paling banyak pengikutnya saat ini. tersebar di Pakistan, India, Iraq, Mesir, dan daerah-daerah sekitar Pakistan dan India seperti: Turkmenistan, Kazakstan dan Azerbaizan. Sebagai Imam Mazhab yang masih termasuk ke dalam generasi Tabiin, beliau pernah berguru kepada seorang ulama Tabiin, Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 dalam tradisi Mazhab Syi’ah.
4.    Mazhab Maliki. Pendirinya Malik ibnu Anas al-Ashbahi al-Madani. Beliau lahir tahun 94 Hijriyah (716 Masehi) dan wafat tahun 179 Hijriyah (795 Masehi). Pengikutnya banyak terdapat di Maroko dan negara-negara berpenduduk muslim lainnya di Afrika.
5.    Mazhab Syafi’i. Pendirinya Muhammad ibnu Idris asy-Syafii lahir tahun 150 Hijriyah (767 Masehi) dan wafat tahun 205 Hijriyah (820 Masehi). Di antara gurunya adalah Imam Malik. Pengikut mazhab ini banyak terdapat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Juga terdapat di Mesir, Irak, Omman dan negeri-negeri Syam.
6.    Mazhab Hanbali. Pendirinya Ahmad ibnu Hanbal al-Baghdadi. Beliau lahir tahun 164 Hijriyah (780 Masehi) dan wafat tahun 241 Hijriyah (855 Masehi). Di antara gurunya adalah Imam Syafi’i. Pengikutnya, menurut klaim sebagian Salafi Wahabi, banyak terdapat di Arab Saudi.
7.    Mazhab Syiah Imamiyah. Menurut keyakinan para penganutnya, mazhab ini berpijak kepada 12 imam keturunan Rasulullah s.a.w. dari jalur Sayidina Ali ibnu Abu Thalib r.a. Pengikutnya banyak terdapat di Iran, Irak, Lebanon, Qatar, Bahrain, Yaman, Syria dan menyebar dalam jumlah kecil di banyak negara berpenduduk muslim seperti Mesir, Yordania bahkan Indonesia. Dari tinjauan geo politik, negara Kerajaan Arab Saudi di kelilingi oleh negara-negara berpenduduk Syiah yang cukup besar. Oleh karena itu, Pemerintah Saudi punya kepentingan politik dalam mendukung paham anti Syiah demi kelanggengan kerajaannya.
8.    Mazhab Zhahiri. Pendirinya adalah Daud bin Ali bin Khalaf al-Ashbahani dikenal dengan sebutan Daud az-Zhahiri. Lahir di Kufah antara tahun 200, 201 dan 202 H, dan wafat tahun 270 H.[3] Mulanya ia bermazhab Syafi’i dan termasuk orang yang begitu mencitai sang Imam sehingga menulis dua buku mengenai keutamaan dan sanjungan kepada Imam Syafi’i.[4] Meskipun ajaran Zahiri terus bertahan terutama dikalangan ulama dan ahli hadits, masyarakat mulai jarang mengikut mazhab ini sehingga banyak ahli sejarah mulai menyatakannya telah punah. Saat ini, Mazhab Zhahiri masih diikuti oleh komunitas-komunitas kecil di Maroko dan Pakistan.
9.    Jika boleh ditambahkan,[5] yang terakhir adalah Mazhab Wahabi. Dinisbatkan kepada Muhammad ibnu Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi (wafat tahun 1792 Masehi). Karena ternyata, Wahabi memiliki banyak perbedaan dengan Mazhab Hanbali, meskipun sebagian pengikutnya terkadang mengklaim mereka bermazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal. Tetapi sebagian mereka justru menyatakan tidak bermazhab. Pada tataran realita, Mazhab Wahabi ini mengikuti pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan memadukannya dengan pendapat Ibnu Abdul Wahab, tidak merujuk kepada pendapat Imam Ahmad ibnu Hanbal.  
Jadi tidak benar, jika dikatakan hanya ada 4 (empat) mazhab dalam Islam. Ini adalah bentuk pembodohan terhadap umat Islam dan tidak sejalan dengan sejarah yang ada. Saat ini Wahabi dan Syiah menjadi sorotan tajam. Wahabi bermacam-macam, begitu juga dengan Syiah bermacam-macam. Ada di antara Wahabi yang masuk ke dalam kekufuran, sama halnya dengan Syiah. Begitu juga, ada di antara Wahabi yang masih dapat dibenarkan, begitu juga dengan Syiah. Persatuan dan kesatuan umat, jauh lebih penting daripada hanya mempermasalahkan masalah-masalah furu'iyah, bukan masalah-masalah ushuliyah. Saat ini, banyak umat Islam yang terjebak dan termakan berita yang belum pasti kebenarannya, sehingga di antara umat Islam saling caci-maki, bahkan saling bunuh. Padahal Rasulullah s.a.w. telah bersabda, "Mencaci-maki orang Islam adalah kefasikan dan memeranginya (membunuhnya) adalah kekafiran." (HR. Bukhari dalam Shahihnya). Kita tidak boleh mencaci-maki umat Islam, apalagi dengan caci-maki para sahabat Nabi s.a.w. itu sangat dilarang, bukan ajaran Islam.
Dalam sebuah deklarasi yang dikeluarkan oleh Konferensi Islam Internasional di Amman Yordania tanggal 4-6 Juli 2005, dan ditegaskan kembali dalam keputusan dan rekomendasi Sidang ke 17 Majma al-Fiqh al-Islami (lembaga di bawah Organisasi Konferensi Islam/OKI) di Yordania tanggal 24-26 Juni 2006 dinyatakan:
1.Setiap yang mengikuti salah satu dari empat Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), Mazhab Ja`fari (Syiah Imamiyah), Zaidiyah, Ibadhiyah dan Zhahiriyah adalah Muslim, yang tidak boleh dikafirkan. Demikian pula tidak boleh mengkafirkan kelompok Muslim lain yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, rukun iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari pokok-pokok ajaran agama (al-ma`lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah).
2.Perkara-perakara yang menyatukan mazhab-mazhab yang ada sangatlah banyak dibanding perbedaan. Para penganut mazhab delapan tadi sepakat terhadap prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Semua beriman kepada Allah yang Esa, Al-Qur`an adalah kalamullah, Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh umat manusia. Mereka juga sepakat rukun Islam yang lima; syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji. Demikian juga rukun iman; percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan qadar yang baik dan buruk. Perbedaan ulama para pengikut mazhab adalah perbedaan dalam hal teknis (furu’iyyah), bukan yang prinsipil, dan itu mendatangkan rahmah.
Pernyataan yang ditandatangani oleh banyak ulama dunia Islam itu dapat dikatakan sebagai sebuah konsensus (ijmâ`) umat Islam di era modern, sebagai upaya membangun pijakan dalam mewujudkan kerukunan dan kedamaian.[6]
Tentu sangat disayangkan, jika ada kelompok umat Islam yang terlalu mudah mengafirkan orang atau institusi hanya karena berbeda pandangan dalam beberapa persoalan akidah atau Fikih. Padahal Al-Qur`an mengingatkan kita agar tidak cepat-cepat menghukumi orang lain kafir, “Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu, ‘Kamu bukan seorang yang beriman,’ (lalu kamu membunuhnya).” (QS. an-Nisa [4]: 94). Rasulullah juga meningatkan, “Jika ada seseorang yang melemparkan tuduhan fasiq dan kafir kepada orang lain, dan ternyata tuduhan itu tidak benar, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya.” (HR. Al-Bukhari).


[1] www.aqaed.com/shia/world/oman/. http://m-mahdi.info/sada-almahdi/?page= articles&id=165
[2] Muhammad Abu Zuhrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (sejarah Mazhab-Mazhab Islam), Dar al-Fikr al-Arabi, Cairo, hal. 40.
[3] Ibnu Khallikan, Wafiyat al-A’yan, Dar Shadir, Beirut, t.th, juz 2, hal 257.
[4] Umar Ridha Kihalah, Mu’jam al Muallifin, Muassasah ar-Risalah, Beirut 1993, cet. 1 jilid 1, h. 700.
[5] Kenapa kami katakan, jika boleh ditambahkan? Karena dalam definisi mazhab di atas, mazhab merupakan pendapat seorang ulama mujtahid. Pertanyaannya adalah, apakah Ibnu Abdul Wahab memenuhi kriteria sebagai seorang mujtahid atau tidak, jika dilihat dari kapasitas keilmuan dan kewaraannya.
[6] www.waag-azhar.or.id/index.php/berita/artikel-ke-azharan/132-benarkah-quraish-shihab-syiah-ii

Sabtu, 27 September 2014

HUKUM MENGERASKAN ZIKIR MENURUT SALAFI WAHABI
Oleh: Syaikh Idahram
1.      Syaikh Bin Baz (ulama Salafi Wahabi nomor Wahid) mengatakan dalam fatwanya bahwa, mengeraskan suara zikir adalah bagian dari sunnah Nabi s.a.w. dan para sahabatnya. Bahkan beliau mengatakan,
“Dan bagi orang di sekitarnya yang sedang mengerjakan shalat, maka yang lebih afdhal baginya untuk merendahkan sedikit (bacaan shalatnya) sehingga tidak mengganggu mereka (yang sedang berzikir), karena mengamalkan dalil-dalil lain terkait hal itu… disyariatkannya mengeraskan zikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, dalam bentuk orang-orang yang ada di pintu-pintu masjid (Nabawi) dan sekitar masjid dapat mendengarnya, sehingga mereka mengetahui shalat (Nabi dan para sahabatnya) telah selesai dengan adanya itu (suara zikir keras berjamaah).”
Fatwa tersebut juga termaktub dalam buku beliau berjudul Majmu Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz (kumpulan fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz) pada volume 11 halaman 206, sebagai berikut:
 ثبت في الصحيحين عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من الصلاة المكتوبة كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال ابن عباس رضي الله عنهما (كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته). فهذا الحديث الصحيح وما جاء في معناه من حديث ابن الزبير والمغيرة بن شعبة رضي الله عنهما وغيرهما كلها تدل على شرعية رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة على وجه يسمعه الناس الذين عند أبواب المسجد وحول المسجد حتى يعرفوا انقضاء الصلاة بذلك. ومن كان حوله من يقضي الصلاة فالأفضل له أن يخفض قليلاً حتى لا يشوش عليهم، عملاً بأدلة أخرى جاءت في ذلك. وفي رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة فوائد كثيرة: فيها إظهار الثناء على الله سبحانه وتعالى على ما مَنَّ به عليهم من أداء هذه الفريضة العظيمة. ومن ذلك تعليم للجاهل وتذكير للناسي، ولولا ذلك لخفيت السنة على كثير من الناس. والله ولي التوفيق. (مجموع فتاوى بن باز : 11/206)
Telah disebutkan dalam kitab shahihain (shahih Bukhari & shahih Muslim), dari jalur riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma (ia mengatakan), “Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku tahu selesainya shalat mereka (Nabi dan para sahabatnya) itu, saat kudengar (suara zikir keras berjamaah) itu.”
Hadis shahih ini, dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, seperti hadis riwayat Ibnuz Zubair, dan Al-Mughiroh ibnu Syu’bah radhiyallahu anhuma, semuanya menunjukkan disyariatkannya mengeraskan zikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, dalam bentuk orang-orang yang ada di pintu-pintu masjid (Nabawi) dan sekitar masjid dapat mendengarnya, sehingga mereka mengetahui shalat (Nabi dan para sahabatnya) telah selesai dengan adanya itu (suara zikir keras berjamaah).
“Dan bagi orang di sekitarnya yang sedang mengerjakan shalat, maka yang lebih afdhal baginya untuk merendahkan sedikit (bacaan shalatnya) sehingga tidak mengganggu mereka (yang sedang berzikir), karena mengamalkan dalil-dalil lain terkait hal itu.”
Dalam tuntunan mengeraskan zikir ketika para jamaah selesai shalat wajib ini, ada banyak manfaat, diantaranya: menampakkan pujian kepada Allah ta’ala yang telah memberikan mereka kenikmatan bisa menjalankan kewajiban yang agung ini. (Sebagai sarana untuk) mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lupa. Jika saja tidak ada hal itu, tentunya sunnah ini akan jadi samar bagi banyak orang. Wallahu waliyyut taufiq.” Demikian kata Syaikh Bin Baz dalam fatwanya.
2.      Syaikh Muhammad ibnu Sholih al-Utsaimin (ulama Salafi Wahabi nomor dua setelah Bin Baz) dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasa`il asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin (kumpulan fatwa-fatwa dan risalah-risalah Syaikh Ibnu Utsaimin) volume 13 halaman 182-184 mengatakan:
 إن الجهر بالذكر بعد الصلوات المكتوبة سنة، دل عليها ما رواه البخاري من حديث عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم قال: “وكنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته”. ورواه الإمام أحمد وأبو داود. وهذا الحديث من أحاديث العمدة، وفي الصحيحين من حديث المغيرة بن شعبة – رضي الله عنه – قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا قضى الصلاة: “لا إله إلا الله وحده لا شريك له”. الحديث، ولا يسمع القول إلا إذا جهر به القائل. وقد اختار الجهر بذلك شيخـ الإسلام ابن تيميه -رحمه الله- وجماعة من السلف، والخلف، لحديثي ابن عباس، والمغيرة رضي الله عنهم. والجهر عام في كل ذكر مشروع بعد الصلاة سواء كان تهليلاً، أو تسبيحاً، أو تكبيراً، أو تحميداً لعموم حديث ابن عباس، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم التفريق بين التهليل وغيره بل جاء في حديث ابن عباس أنهم يعرفون انقضاء صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالتكبير، وبهذا يعرف الرد على من قال لا جهر في التسبيح والتحميد والتكبير. وأما من قال: إن الجهر بذلك بدعة فقد أخطأ فكيف يكون الشيء المعهود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم بدعة؟!… وأما احتجاج منكر الجهر بقوله تعالى: (وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ). فنقول له: إن الذي أمر أن يذكر ربه في نفسه تضرعاً وخيفة هو الذي كان يجهر بالذكر خلف المكتوبة، فهل هذا المحتج أعلم بمراد الله من رسوله، أو يعتقد أن الرسول صلى الله عليه وسلم يعلم المراد ولكن خالفه؟!… وأما احتجاج منكر الجهر أيضاً بقوله صلى الله عليه وسلم: “أيها الناس اربعوا على أنفسكم”. الحديث فإن الذي قال: “أيها الناس أربعوا على أنفسكم” هو الذي كان يجهر بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، فهذا له محل، وذاك له محل، وتمام المتابعة أن تستعمل النصوص كل منها في محله… أما من قال: إن في ذلك تشويشاً فيقال له: إن أردت أنه يشوش على من لم يكن له عادة بذلك، فإن المؤمن إذا تبين له أن هذا هو السنة زال عنه التشويش، إن أردت أنه يشوش على المصلين، فإن المصلين إن لم يكن فيهم مسبوق يقضي ما فاته فلن يشوش عليهم رفع الصوت كما هو الواقع، لأنهم مشتركون فيه. وإن كان فيهم مسبوق يقضي فإن كان قريباً منك بحيث تشوش عليه فلا تجهر الجهر الذي يشوش عليه لئلا تلبس عليه صلاته، وإن كان بعيداً منك فلن يحصل عليه تشوش بجهرك. وبما ذكرنا يتبين أن السنة رفع الصوت بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، وأنه لا معارض لذلك لا بنص صحيح ولا بنظر صريح، وأسأل الله تعالى أن يرزقنا جميعاً العلم النافع والعمل الصالح، إنه قريب مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai shalat wajib adalah sunnah, hal itu telah diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari hadisnya Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu anhuma (ia mengatakan), “Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat kudengar (suara zikir keras berjamaah) itu”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Hadis ini termasuk diantara hadis-hadis utama (dalam masalah ini).
Dalam kitab shahihain, dari hadisnya al-Mughirah ibnu Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika selesai shalat (wajib), beliau membaca zikir “lâ ilâha illawlâhu wahdahû  lâ syarîka lah…” (al-Hadis). Dan dia tidak akan mendengar bacaan zikir itu kecuali orang yang mengucapkannya mengeraskan suaranya. (Bahkan) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan sekelompok ulama salaf telah memilih pendapat (sunnahnya) mengeraskan zikir, dengan dasar dua hadis, yakni hadisnya Ibnu Abbas dan al-Mughirah radhiyallahu ‘anhum.
Mengeraskan zikir di sini, berlaku umum untuk semua zikir setelah shalat yang disyariatkan, baik itu berupa tahlil, atau tasbih, atau takbir, atau tahmid. Karena umumnya redaksi hadis Ibnu Abbas. Dan tidak ada keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membedakan antara tahlil dan yang lainnya. Bahkan dalam hadisnya Ibnu Abbas dikatakan, bahwa para sahabat dahulu tahu selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan takbir. Keterangan ini, membantah orang yang berpendapat tidak bolehnya mengeraskan suara kecuali pada tasbih, tahmid dan takbir.
Adapun orang yang mengatakan, bahwa mengeraskan (zikir setelah shalat) itu bid’ah, maka sungguh ia salah, karena bagaimana mungkin sesuatu yang ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan bid’ah?!
Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (zikir setelah shalat ini) dengan firman-Nya: “Sebutlah (wahai Muhammad) nama Tuhanmu di dalam dirimu, dengan rendah hati dan suara yang lirih serta tidak mengeraskan suara, ketika pagi dan petang. Dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai” (QS. al-A’raf [7]: 205). Maka bisa dijawab dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang telah diperintahkan untuk berzikir dalam dirinya dengan rendah hati dan suara lirih (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau juga orang yang telah mengeraskan zikir setelah shalat wajib. Lalu apakah orang itu (orang yang mengingkari zikir keras berjamaah) lebih tahu maksud Allah dalam ayat itu melebihi rasul-Nya?! Ataukah ia beranggapan bahwa Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebenarnya tahu maksud ayat itu, tapi beliau sengaja menyelisihinya?!
Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (zikir setelah shalat ini) dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai manusia, sayangilah diri kalian, karena kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang tuli…! (sampai akhir hadis)”. Maka bisa dijawab dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang menyabdakan hal itu, dia juga orang yang dulunya mengeraskan zikir setelah shalat wajib ini. Itu berarti, tuntunan ini punya tempatnya masing-masing, sedangkan yang itu juga ada tempatnya masing-masing. Dan sempurnanya mengikuti sunnah beliau adalah dengan memakai semua nash yang ada, pada tempatnya masing-masing.
Adapun orang yang mengatakan bahwa amalan itu bisa mengganggu orang lain, maka bisa dijawab dengan mengatakan padanya: Jika maksudmu akan mengganggu orang yang tidak biasa dengan hal itu, maka hal itu akan hilang (dengan sendirinya), ketika ia tahu bahwa amalan itu adalah sunnah.
Jika maksudmu akan mengganggu jama’ah yang lain, maka jika tidak ada ma’mum yang masbuq, tentu hal itu tidak akan mengganggu mereka, sebagaimana fakta di lapangan. Karena mereka sama-sama mengeraskan zikirnya.
Adapun jika ada ma’mum masbuq yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka jika ia dekat denganmu hingga kamu bisa mengganggunya dengan (kerasnya) suara zikirmu, maka janganlah kamu meninggikan suara dengan tingkatan  suara yang  bisa mengganggunya, agar kamu tidak mengganggu shalatnya. Sedang jika ia jauh darimu, maka tentu kerasnya suara (zikir)-mu tidak akan mengganggunya sama sekali.
Dengan keterangan yang kami sebutkan di atas, menjadi jelas bagi kita, bahwa mengeraskan zikir setelah shalat wajib adalah sunnah. Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang shahih, maupun dengan sisi pendalilan yang jelas.
Aku memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sesungguhnya Dia itu maha dekat lagi maha mengabulkan doa. Semoga Allah s.w.t. senantiasa mencurahkan shalawat dan salamnya kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya semua.” Demikian kata Syaikh Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.
3.      Fatawa Lajnah Da’imah (Fatwa-fatwa Dewan Tetap Salafi Wahabi), Lembaga Semacam MUI di Indonesia
 يُشرَع رفع الصوت بالذكر بعد الصلاة المكتوبة، لما ثبت من حديث ابن عباس رضي الله عنهما قال: (إن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم) وأنه قال أيضا: (كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته) ولو وجد أناس يقضون الصلاة سواء كانوا أفرادا أو جماعات وذلك في جميع الصلوات الخمس المفروضة.
Disyariatkan untuk mengeraskan zikir setelah shalat wajib, karena adanya keterangan yang shahih dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, (ia mengatakan), “Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat ku dengar (suara zikir keras berjamaah) itu”.
(Mengeraskan zikir setelah shalat wajib tetap disunnahkan), meski ada orang-orang yang masih menyelesaikan shalatnya, baik mereka itu (menyelesaikan shalatnya secara) sendiri-sendiri atau dengan berjama’ah. Dan hal itu (yakni mengeraskan zikir) disyariatkan pada semua shalat wajib yang lima waktu.
4.      Fatwa Ulama Wahabi: Abdullah ibnu Muhammad Al-Ghunaiman dalam bukunya Syarah Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid
السؤال: هل يجوز رفع الصوت بالذكر بعد صلاة المغرب إذا كان في ذلك تشويش على المصلين مع أنه سنة؟ الجواب: يجوز ذلك، وقد كان الرسول صلى الله عليه وسلم والصحابة يفعلونه، حتى أخبر ابن عباس أن المسجد يرتج.والسنة لا تترك لأجل أمر آخر، وهذه السنة لا تترك لأنه يشوش على غيره. )الكتاب : شرح كتاب التوحيد المؤلف : عبد الله بن محمد الغنيمان(
Pertanyaan: Bolehkah mengeraskan suara bacaan zikir sesudah shalat maghrib, yang dengan itu dapat mengganggu orang-orang shalat, padahal mengeraskan zikir adalah sunnah?’
Jawaban: Boleh, karena sesungguhnya Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya melakukan itu, sampai-sampai Ibnu Abbas mengabarkan bahwa, mesjid bergemuruh (oleh suara zikir). Lagi pula, sunnah tidak boleh ditinggalkan hanya karena ada perintah yang lain. Berarti, sunnah ini tidak boleh dikesampingkan hanya karena menggangu orang lain.[1]
5.      Syaikh Sulaiman ibnu Sahman, ulama Salafi Wahabi:
وأجاب الشيخ سليمان بن سحمان: قد رأيت ورقة لا أعرف من قالها، ولكن لما كان في نقله ما يشعر بردالنصوص الواردة في الجهر بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة، وسمى هذه المتروكة تشويشاً على الناس، وجعلها من البدع والمحدثات، فيقال لهذا الجاهل: ليس ما ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم مما سنه رسول الله صلى الله عليه وسلم من الجهر بالذكر بعد المكتوبة تشويشاً على الناس؛ بل هذا القول هو التشويش على الناس والتلبيس عليهم، بل هو من أبطل الباطل وأعظم المنكرات، لأن ذلك دفع في نحر النصوص، ورد لها بالتمويه والسفسطة، والقول بلا علم، وقلب للحقائق؛ فإن هذا القول لا يقوله من في قلبه تعظيم للنصوص وتوقير لها.(الكتاب : الدرر السنية في الكتب النجدية جزء 4)
Syaikh Sulaiman bin Sahman menjawab (tentang mengeraskan suara zikir berjamaah), “Aku pernah melihat selembar kertas yang tidak kukenal penulisnya. Namun ketika dirasakan dalam penukilannya itu adanya penolakkan terhadap nash-nash mengeraskan zikir sesudah orang-orang selesai shalat wajib, dan (si penulis) menamakan tradisi sunnah itu sebagai mengganggu manusia, bahkan menebutnya sebagai bid’ah dan mengada-ngada, maka kita katakan kepada si dungu itu: Bukanlah apa yang telah tsabit (jelas dan tetap) keshahihannya dari Nabi s.a.w. dari sunnahnya tentang mengeraskan zikir setelah shalat wajib dikatakan sebagai mengganggu manusia, tetapi ucapan seperti inilah yang disebut mengganggu dan menipu manusia. Bahkan inilah sebatil-batilya kebatilan dan sebesar-besarnya kemunkaran. Karena semua perkataannya itu (hanyalah) pembelaan untuk mencabik-cabik nash, penolakan dengan penuh kepalsuan dan kebatilan, ocehan tanpa ilmu dan penjungkir balikkan kebenaran. Sesungguhnya perkataan seperti itu tidak keluar dari hati orang yang mengagungkan dan menghormati nash. (kitab ad-Durar as-Sanniyyah fi al-Kutub an-Najdiyyah jilid 4)
PENDAPAT PARA ULAMA AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ. (رواه البخاري 797 ومسلم 917)
Dari Ibnu Abbas r.a. mengatakan: “Aku mengetahui, kalau shalat (berjamaah yang dipimpin) Nabi s.a.w. itu telah selesai, tandanya adalah dari (terdengarnya suara nyaring) takbir (secara berjamaah).” (Shahih Bukhari: 797, dan Shahih Muslim: 917)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: إِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُه. (رواه البخاري 796 ومسلم 919)
Dari Ibnu 'Abbas r.a. mengatakan bahwa, mengeraskan suara dzikir, setelah orang-orang selesai menunaikah shalat fardhu, telah terjadi di masa Nabi s.a.w. Beliau mengatakan, Aku menjadi tahu, kalau mereka telah selesai shalat berjamaah bersama Nabi, dari kerasnya suara dzikir yang aku dengar itu. (Shahih Bukhari: 796, dan Shahih Muslim: 919)
Penjelasan hadis di atas oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, diantaranya:
1.      Imam Nawawi
هَذَا دَلِيل لِمَا قَالَهُ بَعْض السَّلَف أَنَّهُ يُسْتَحَبّ رَفْع الصَّوْت بِالتَّكْبِيرِ وَالذِّكْر عَقِب الْمَكْتُوبَة. وَمِمَّنْ اِسْتَحَبَّهُ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ اِبْن حَزْم الظَّاهِرِيّ.
Hadis ini merupakan dalil pendapatnya sebagian ulama salaf, yang mengatakan disunnahkannya mengeraskan takbir dan dzikir saat selesai sholat wajib. Diantara muta’akhkhirin yang juga men-sunnah-kannya adalah Ibnu Hazm azh-Zhohiri.
2.      Ibnu Hazm.
ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن
“Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik.” (Al Muhalla, 4: 260)
3.      Ibnu Huzaimah
Beliau memasukkan hadis di atas dalam kitab shohih-nya, dan memberinya judul:
 باب: رفع الصوت بالتكبير والذكر عند انقضاء الصلاة
Bab: Mengeraskan takbir dan dzikir saat selesai sholat (wajib).
Ini menunjukkan, bahwa beliau memahami bolehnya mengeraskan takbir dan dzikir saat selesai sholat wajib.
4.    al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, ketika men-syarah hadis di atas beliau mengatakan:
 وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز الْجَهْر بِالذِّكْرِ عَقِب الصَّلاة
Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya mengeraskan dzikir setelah sholat (Fathul Bari).
5.      Ibnu Daqiq al-Id, juga menyatakan hal yang sama:
 فيه دليل على جواز الجهر بالذكر عقيب الصلاة والتكبير بخصوصه من جملة الذكر
Dalam hadis ini, terdapat dalil bolehnya mengeraskan dzikir setelah sholat, dan takbir secara khusus termasuk dalam kategori dzikir. (Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam)
6.      Ath Thabari berkata,
فيه الإبانه عن صحة ما كان يفعله الأمراء من التكبير عقب الصلاة
“Hadis ini sebagai isyarat benarnya perbuatan para imam yang bertakbir setelah shalat.” (lihat: kitab Fathul Bari, 2: 325)
7.      Jalaluddin as-Suyuthi
Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah pernah ditanya oleh muridnya, sebagaimana beliau tuliskan dalam kitab fatawanya al-Hawi li alFatawi pada Sub Bab berjudul Natijat al-Fikr fi al-Jahr fi adz-Dzikr :
“Aku bertanya kepadamu (wahai Syaikh as-Suyuthi) semoga Allah s.w.t. memuliakanmu, mengenai suatu hal yang umum dilakukan para pemuka shufiyyah yang menyelenggarakan halaqah zikir, men-jahr-kannya di dalam masjid, dan mengeraskan suaranya dengan bacaan tahlil, apakah hal yang demikian ini makruh atau tidak?
Sesungguhnya hal yang demikian ini tidak dihukumi makruh sama sekali, dan sungguh terdapat banyak riwayat hadis-hadis yang menunjukkan disunnahkannya berzikir secara jahr (keras), selain itu terdapat pula hadis-hadis yang menunjukkan disunnahkannya berzikir secara sirr (pelan) sehingga perlu dikompromikan kedua cara berzikir tersebut, yang mana hal tersebut dilaksanakan berbeda-beda menurut keadaan dan masing-masing pribadi. Sebagaimana al-Imam an-Nawawi mengkompromikan hadis-hadis tentang disunnahkannya membaca al-Qura’n secara jahr, dan (hadis-hadis) yang menyebutkan tentang disunnahkannya membaca al-Qur’an secara sirr, berikut ini akan saya jelaskan secara fasal demi fasal.”
Lalu beliau menyampaikan beberapa hadis shahih di antaranya:
أخرج البخاري عن أبي هريرة قال : (( قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُم )) والذكر في الملإ لا يكون إلا عن جهر.
Bukhari mengeluarkan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, Allah s.w.t berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku. Kalau dia menyebut-Ku dalam dirinya Aku-pun menyebut dia dalam diri-Ku (siir). Dan bila dia menyebut-Ku dalam sebuah jama’ah, Aku-pun menyebut dia dalam jama’ah yang lebih baik (banyak) dari jama’ah dia.’” (Syaikh mengomentari hadits ini):zikir dalam jama’ah tidak terjadi kecuali dengan jahar (suara keras).”
: أخرج بقي بن مخلد عن عبد الله بن عمرو : أن النبي - صلى الله عليه وسلم دخل المسجد فرأى مجلسين أحد المجلسين يذكرون الله تعالى ويرغبون إليه، والآخر يعلمون العلم فقال - صلى الله عليه وسلم -: «كلا المجلسين على خير وأحدهما أفضل من الآخر. (أخرجه الطيالسي في مسنده (ص: 298،رقم 2251)،والبزار في مسنده (6/428،رقم 2458)،والحارث كما في بغية الباحث (1/185،رقم 40) عن ابن عمرو)
Diriwayatkan oleh Baqi ibnu Makhlad, dari ‘Abdullah ibnu Umar radhiyallaah ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam melewati dua majelis, salah satu dari majelis menyeru dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan majelis yang satunya mengajarkan ilmu. Kemudian beliau s.a.w. bersabda, “Kedua-duanya sangat baik, akan tetapi salah satunya lebih utama (daripada majelis yang satunya).” (HR. al-Bazzar dalam Musnadnya jilid 6 hal. 428 nomor hadis 2458, ath-Thayalisi dalam Musnadnya hal. 298 nomor hadis 2251, al-Harits dalam Bughyah al-Bahits jilid 1 hal. 185 nomor hadis 40)
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ حَتَّى يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنٌ (رواه أحمد والبيهقي وأبو يعلى عن أبي سعيد مرفوعا وكذا ابن حبان والحاكم وابن معين وصححوه)
“Perbanyaklah kalian menzikirkan Allah hingga mereka mengatakan gila.” (HR. Ahmad, Baihaqi, Abu Ya’la dari Abu Said al-Khudri secara marfu. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Muin, mereka telah menshahihkan hadis tersebut)
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ حَتَّى يَقُوْلَ الْمُنَافِقُوْنَ إِنَّكُمْ مُرَاؤُوْنَ. (رواه البيهقي عن أبي الجوزاء رفعه مرسلا)
“Perbanyaklah kalian menzikirkan Allah hingga orang-orang munafik mengatakan, ‘sesungguhnya kalian orang-orang riya (pamer).’” (HR. Baihaqi dari Abu al-Jauza sebagai hadis Marfu Mursal).
Wallâhu a’lam bi sh-shawâb.


[1] Lihat: http://audio.islamweb.net/AUDIO/index.php?page=FullContent&audioid=140318

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget